Meneropong, Bukan Memandang

Sejauh Mata Meneropong. Mengapa Sejauh Mata Meneropong? Bukan Sejauh Mata Memandang?
                Meneropong. Berawal dari kata dasar teropong. Kita tahu teropong adalah alat yang membantu mata kita untuk melihat benda-benda jauh disana yang tak bisa ditangkap oleh mata kita. Ada teropong bintang, ada teropong bumi. Ya, mungkin dua jenis teropong itu yang banyak kita kenal.
                Meneropong berarti kita melihat hal-hal yang jauh disana. Melihat sesuatu yang nyata, namun tak tampak mata. Dalam hidup ini, terlalu sempit jika kita hanya melihat apa yang bisa kita lihat. Terlalu cepat jika kita langsung menyimpulkan semua kejadian yang terjadi saat ini. Pernahkah kita berfikir mengapa sesuatu bisa terjadi? Apa penyebabnya? Lalu, apa akibatnya?
                Ketika kita berjalan, kita melihat ada daun yang jatuh berguguran. Mengapa daun itu bisa jatuh? Singkat saja, mungkin karena sudah tua. Ya, begitulah singkatnya. Namun, pernahkah kita membayangkan seandainya daun itu tidak jatuh? Tak pernah kita fikirkan seandainya daun itu tidak jatuh, maka pohon-pohon itu akan semakin rindang, semakin penuh dengan daun. Bisa saja sampai kita tidak bisa melihat awan di langit karena semua di atas tertutup daun.
                Tapi, kalau daun yang jatuh banyak kan hanya akan mengotori lingkungan saja. Mungkin ada yang berfikir seperti itu. Saat melihat daun berserakan yang begitu banyak, kita pasti akan tergerak untuk membersihkannya. Kita akan menyapunya. Kita akan menggerakkan tangan dan kaki kita. Sehingga kita tidak hanya diam. Menggerakkan tangan dan kaki, jadi kita telah melakukan olahraga, yang tentunya baik untuk kesehatan kita.
                Dalam hidup ini, seringkali kita tidak menyadari akan terjadinya sesuatu yang menimpa kita. Semua yang terjadi kadang sering kita anggap sebagai sesuatu yang hanya akan berlalu begitu saja. Kita sering membanggakan hal-hal yang baik yang terjadi dalam hidup dan akan sering mengeluh dengan hal-hal yang buruk. Sering kita menyalahkan nasib buruk yang kita terima. Namun tidak pernah bersyukur jika kita mendapat kebaikan.
                Sebagai manusia yang tercipta dengan akal, kini bukan saatnya kita hanya memandang. Kita harus bisa meneropong. Meneropong dengan membuka mata hati kita. Meneropong setiap kejadian yang terjadi dalam kehidupan kita. Tidak ada satu kejadian pun di muka bumi ini yang tidak ditetapkan sebelumnya, bahkan daun yang jatuh pun telah dituliskan sebelumnya oleh Sang Pencipta.
                Jika saat ini kita mengalami hal yang buruk, maka yakinlah pasti kita akan mengalami hal yang baik nantinya. Tidak selalu yang buruk akan terus menjadi buruk. Tetapi hal yang baik akan bisa selalu menjadi baik selama kita selalu melakukan yang terbaik dalam hidup ini. Maka jalanilah selau hidup ini dengan semangat dan keikhlasan. Teroponglah masa depan yang akan datang. Teroponglah dengan semua kebaikan yang bisa kita lakukan, dan lihatlah di teropong itu kita akan selalu tersenyum akan hasil dari semua kebaikan yang kita kerjakan hari ini.  



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumpulan Ceramah Ustadz Abdul Somad, Lc., MA. (MP3 Download)

Beasiswa Dataprint